Group A:”Mexico”

Meksiko

Data

Asosiasi : Federacion Mexicana de Futbol Asociacion
Julukan : EL Tri
Seragam : Hijau-Putih
Kapten : Rafael Marquez
Pelatih : Javier Aguirre
Profile Singkat

TIDAK ada prestasi emas yang ditorehkan Meksiko pada ajang Piala Dunia. Dari 13 kali penampilan di putaran final, mereka paling jauh hanya mampu menembus babak perempat final pada 1970 dan 1986, pada dua kesempatan itu Meksiko bertindak sebagai tuan rumah.

Sebagai jagoan zona CONCACAF, El Tri-julukan Meksiko-adalah negara yang paling sering hadir di kompetisi sepakbola antarnegara terakbar. Sementara, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan (afsel) adalah penampilan kelima mereka secara berturut-turut usai mendapat pencekalan FIFA pada 1990 karena terbukti menggunakan jasa pemain di luar batasan usia yang ditetapkan.

Di Afsel nanti, Meksiko akan dituntun oleh pelatih Javier Aguirre. Dengan mengandalkan beberapa bintang yang bermain di kompetisi Eropa seperti Rafael Marquez (Barcelona), Carlos Vela (Arsenal), Giovani dos Santos (Tottenham Hotspur) serta veteran lokal Cuauhtemoc Blanco (Veracruz), Meksiko siap menghajar lawan-lawan di babak penyisihan grup A Piala Dunia, yaitu tuan rumah Afsel, Uruguay dan finalis 2006, Prancis.

Meksiko memastikan langkah ke Afsel dengan susah payah. Ditinggal dua pelatih Hugo Sanchez dan Sven-Goran Eriksson mereka terseok-seok di awal kualifikasi. Beruntung, Aguirre segera datang, ditangan mantan arsitek tim La liga Atletico Madrid tersebut, Meksiko mencatat lima kemenangan dan satu hasil seri untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2010.

Dengan meteri pemain yang ada, rasanya tidak sulit bagi Aguirre untuk meracik formasi jitu. Marquez pastinya jadi andalan di lini belakang, sementara alur serangan akan dipercayakan kepada ‘si jenuis’ Blanco.

Satu-satunya masalah hanya pada barisan depan. Mereka belum memiliki striker maut yang bisa merobek gawang lawan di setiap kesempatan. Untuk mengatasi hal ini, Aguirre terpaksa melakukan banyak eksperimen terlebih dahulu.

Blanco, Seniman Lapangan El Tri
Tua-tua keladi, itulah kalimat paling pas untuk menggambarkan karakter Cuauhtemoc Blanco. Menginjak usia 37 tahun dia masih sangat terampil mengolah si kulit bundar di lapangan.

Blanco sudah dua kali tampil di Piala Dunia, yaitu Prancis 1998 dan Korea-Jerpang 2002. Pada masing-masing ajang tersebut, dia hanya membukukan satu buah gol.

Blanco mencatatkan tinta emas di ajang Piala Konfedarasi 1999. Dia meraih penghargaan sepatu emas dengan membukukan 6 gol, sekaligus menjadi pemain topskorer sepanjang masa dengan 9 gol (3 gol sebelumnya di bukukan pada 1996) bersama bintang Brasil Ronaldinho.

Ciri khas permainan Blanco adalah teknik tingkat tingginya. Salah satu aksi yang paling dikenang hingga kini adalah ‘Cuautemina’ di Piala Dunia 1998. Sebuah teknik meloloskan diri dari kepungan lawan dengan menjepit bola diantara kedua kaki sambil melakukan gerakan melompat.

Blanco sempat absen panjang dari Timnas sejak perhelatan Copa Amerika 2007 silam. Namun karena penampilan apik yang terus diperlihatkannya di level klub, Aguirre memutuskan kembali memakai jasanya.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s